Kamis, 29 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 21



“Ia telah lelap tertidur.” Keluar dari ruang monitor, aku berkata pada Mike, “berikan ia waktu sedikit lebih banyak lagi … kupikir ia mungkin capek.” Kataku.
Mike tidak sehidup sebelumnya, menggenggam dokumen-dokumen yang David telah serahkan padanya, ia mengangkat matanya yang mengerikan dan menatap Kris. Apa yang tersembunyi di dalam mata tersebut, aku tak dapat mengungkapkannya.

“Misiku selesai.” Aku tersenyum, menepuk pundak David.
Ia tersenyum, ingin mengatakan sesuatu tapi sirna. Dengan sedikit keraguan, ia mengambil berkas kasus, “pekerjaanmu selesai, bagaimanapun … Kataku, kau mungkin harusnya tahu hal-hal ini.” Ia menyerahkan padaku setumpuk dokumen, “lihatlah sendiri.”

Sejam kemudian, berjalan di koridor kantor pusat yang telah kosong, langkah kakiku tampaknya sangat kesepian.

Tentang kejadian selanjutnya … aku menemukan bahwa aku tak akan mengatakannya. Menyingkirkan cangkang lapis demi lapis untuk mengungkapkan kulit dan daging yang telah dimutilasi dengan sangat parah, kau lihat, setiap orang harus membiarkan beberapa hal akhir untuk mereka sendiri, bukan.

Dalam mungkin kurang dari satu jam tersisa di papan hitung mundur yang juga satu jam setelah kematian Yixing, ia memukulkan sebuah kursi ke jendela, kursinya hancur, tapi tidak ada hal lain yang terjadi.


Kemudian, ia mencoba bermain-main dengan kode kunci pintu, hanya untuk bertemu dengan tiga kesalahan berturut-turut, disamping usahanya yang kacau, tak ada yang terjadi.

Kemudian, ia mengambil wajan yang pernah dipakai Park Chanyeol dan berencana merusak jendela atap, hal yang ia jaga dari Chanyeol untuk dihancurkan. Jendelanya pecah, namun tak ada yang terjadi.

Di tengah kegilaan, ia dengan membabi buta menghancurkan ruang tamu, menendang sofa dan meja teh terus-menerus dan bahkan menghancurkan dinding. Terhuyung-huyung ia mendekatan mesin dance revolution hanya untuk melihat teks dari kemenangan Luhan yang semua orang gagal untuk mengamatinya: Kejutan.

Ia menempatkan tangannya yang gemetaran disitu, tembok dan peraturan game berangsur-angsur menghilang seperti mimpi buruk, beberapa kata berwarna merah terproyeksi, di dalam bahasa korea, “Hari peringatan dua tahun!”
Seperti jelas menyadari sesuatu namun juga tidak dapat diprediksi. Semua orang sudah tersadar, ini adalah mimpi buruknya saja.

Beberapa hari kemudian, aku mengunjungi kantor pusat untuk membersihkan beberapa dokumen yang menyangkut kasus itu, sebelum aku pergi, aku pergi mengunjungi pasien spesial ini.

Dibalut baju tahanan yang kebesaran, ia nampak kurus secara tidak normal. Rambutnya yang juga telah dipotong pendek, tetap dalam keadaan acak-acakan seperti biasanya, jemarinya yang indah diletakkan secara kasual di pahanya dan wajahnya pucat sedikit tak biasanya.
Karena beberapa kali terdengar ia terbatuk, aku menanyakan keadaan kesehatannya, ia perlahan mengangguk untuk mengekspresikan bahwa ia baik-baik saja.


Aku terlalu takut untuk menggambarkan hukuman penjaranya. Bahkan bila ia hanya memakai baju tahanan tanpa make-up sama sekali, ketampanannya tetap terlihat meluap-luap. Bahkan bila ia berjalan masuk ke bar homoseksual, aku akan menakutkan keselamatannya, bukan untuk menyebutkan di penjara dan fakta bahwa ia adalah orang Asia.

“Bila …… aku bilang di masa yang akan datang,” aku menggaruk ujung hidungku, mengamati pemilihan kataku, “selama masa tahananmu, bila ada sesuatu yang kau merasa tidak nyaman …. Kau bebas untuk menghubungiku, aku memiliki banyak cadangan kenalan pengacara.” Aku memberinya kartu namaku, “Kau mungkin tidak bisa mengambil ini bersamamu, tapi ingatlah namaku, banyak polisi mengenalku.” Aku mengatakannya dengan penuh keramahan. Bila pasienku telah memilih rute kematian, itu akan menjadi cercaan terhadap pekerjaanku, namun bagaimanapun juga ini adalah hal yang sangat tak bisa aku cegah.”

Ia mengambil kartu namaku dan menatapku dengan senyuman seperti telah melihat maksud dari apa yang ku ucapkan, “Aku tidak akan bunuh diri, jangan khawatir.”
“Itu bagus.” Aku menatapnya.
“Aku akan hidup.” Ia berkata dengan kepalanya tertunduk, “dan menerima seluruh hukuman, dan oleh sebab itu …..” ia berkata dengan senyuman, “Aku akan berusaha keras untuk hidup, untuk menjalani hukuman ini.”

Aku menatap bocah itu, dan sama seperti ketika pertama kali aku melihatnya, ia memancarkan keberadaan dirinya yang sangat jelas.

Disini, ada banyak piramida menumpuk dan menghambat,” ia tersenyum dan menunjuk ke dadanya, “dengan setiap hukuman, itu akan terasa seperti sebuah batu diangkat, mungkin bila aku bertahan disini selama beberapa ratus tahun, aku akhirnya akan bisa menghirup udara bebas.” Ia melanjutkan dengan senyum.
Aku duduk dalam keheningan, mungkin, berlawanan dengan persepsiku, tak semua orang membutuhkan psiskiater.

Semua orang memiliki luka yang tak bisa diselamatkan, dan karena mereka tidak akan menghilang, itu akan mengikuti mereka hingga kematian mereka.

Di petang dua minggu kemudian, berita dipenuhi dengan malapetaka di seluruh muka bumi, dan di bawah laporan sepele dari kecelakaan mobil lokal, aku membaca tentang Mr Zheng yang malangnya meninggal pada insiden tersebut.

Mungkin beberapa hal memang tidak dimaksudkan untuk disebarkan.

Tak ada seorang pun tahu, Kim Junmyeon yang jatuh ke cermin menggumamkan kata-kata ini, “ada suara berisik datang dari basement.”
Tak ada seorang pun tahu, pada petualangan terakhir, Kris menundukkan kepalanya dan berbisik padaku, “sebenarnya, aku menggeser trampolin itu hanya sedikit.”
Tak ada seorang pun tahu, orang Jerman si penjual perhiasan Wellendorf telah memproduksi sebuah cincin edisi terbatas yang sangat luar biasa mahal, dibagi menjadi tiga bagian berputar di permukaannya yang dapat dengan mudah diatur menjadi sebuah ilustrasi bila sudah selesai, melukiskan sebuah kata kursif Jerman yang sangat sederhana: Liebe*.
Lebih jauh lagi, tak ada seorang pun tahu, pada musim dingin 2010 itu, Zhang Yixing akhirnya membeli jam tangan bergaya hitam putih merek Tissot yang sudah ia incar sejak lama itu, yang di bagian belakangnya tertulis:

Ini hanya berhenti ketika kau jatuh cinta.



T/N:
* = cinta.

Original Fanfiction  written by 辛辛息息
Indonesian Translation of this chapter by  citrahf

 Do not reupload, do not repost, respect copyrights, and use proper credits if linking this post
Don't forget to leave some comments ^^


48 HOURS - CHAPTER 20

Ketika Yixing terbangun, jam telah menunjukkan pukul 7 malam.

Ia mengucek matanya sebelum menatap papan hitung mundur di tembok menunjukkan sisa waktu 3 jam dan dengan lesu berkata, “Sudah selarut ini.”

Berbaring membungkuk miring di sofa, Aku menatap matanya.

“Dimana yang lainnya?” Ia berkata.
“Mereka semua mati.” Ucapku.
Ia berkedip dan menengadah, menatap tanpa pikiran.

Ia tidak menanyakanku tentang bagaimana Luhan mati, mungkin tidak perlu juga mengetahui jawabannya.
Berdiri, ia pelan-pelan menaiki tangga. Ia membuka pintu menuju kamar tidur kedua di lantai dua, dan melihat keadaan yang kacau balau itu.

Ia tersenyum diam dan menatap keluar jendela.

Hujan turun diluar jendela, suara air hujan terus terdengar seiring menetesnya ia ke dedaunan dan  bagian bawah jendela. Aku tak dapat memastikan apa yang ada di atmosfer pada malam itu yang menggantikan kata-kata kami.

Hal-hal yang tak pernah kuberi tahu, bahasa-bahasa yang ku tak yakini.

“Halo, namaku Zhang Yixing.” Ia tersenyum malu sambil menggaruk kupingnya, “Kau adalah orang Cina pertama yang kukenal.”
“Wu Yi Fan.” Aku mengulurkan tanganku, memberinya sebuah tos.


Larut malam pada suatu malam di bulan Februari 2012, aku duduk di asrama, menatap ke seikat kunci dalam harapan yang hilang dan keputus asaan. Ia menundukkan kepalanya dan menyiratkan senyuman sebelum menempatkan lengannya di bahuku, “Itu bukan apa-apa, mungkin nanti kalau aku jadi gigolo, aku bahkan akan menghasilkan jauh lebih banyak daripada artis sepertimu.”

Pada malam yang hujan di musim dingin 2012, ia menghisap rokok pertama dalam hidupnya, memilih untuk menghadiahi dirinya sendiri, ia berjalan menuju sebuah jam bergaya hitam putih. Melihat harganya yang mahal, ia mengeluarkan seluruh kartu kredit dan uangnya, menatap penjaga tokonya dengan malu, “Aku tidak membawa cukup uang, akankah kau menyimpankannya untukku?”

Malam kemarin, sebuah bintang jatuh melintas di langit. Ia duduk di samping jendela dengan mulutnya yang agak dimanyunkan, “Bila aku ditakdirkan untuk bangun besok, aku tidak ingin hidup sendirian.” Ia menatapku dengan sebuah senyum.

Beberapa hal lebih baik dibiarkan tak diucapkan.

Kami berdiri berjejer di kamar tidur. Aku melangkah maju dan memeluknya perlahan dari belakang.
Ia tidak menoleh, dan juga tidak menggumam sepatah kata pun.

“Kapan kau akan membunuhku.”  Ia bertanya tak acuh, matanya masih tertuju pada luar jendela.
Aku memejamkan mataku, dan membenamkan kepalaku di bahunya.

Aku culas dan bermuka dua. Aku memang begitu sepanjang hidupku, namun hanya pada saat aku benar-benar harus bermuka dua, entah bagaimana aku kehilangan kekuatan untuk menggunakan keahlianku tersebut.

“Sekarang,” bisikku, suaraku bergetar, berat dan dalam, seiring dengan lembut kubawa bibirku ke salah satu sisi wajahnya. Kubalikkan badannya dengan gemetaran, kudaratkan ciuman di bibirnya.

Ia membuka matanya, seperti yang kuduga, dan menatapku dengan ekspresi itu. Itu adalah ekspresi yang sangat jauh tak dapat dideskripsikan dengan bahasa.

“Aku memaafkanmu,” mata-mata itu tampak berbicara.

Hujan yang turun diluar nampaknya telah menyimbahiku dari ujung rambut hingga ujung kaki, dari lenganku hingga kakiku, membasahkuyupiku dengan kelembaban, seluruhnya, seutuhnya. Ia memandangku, seperti pohon diluar yang sangat dibasahi air; matanya nampak berkata, jangan marah, ini bukan kesalahanmu.

Air mataku mulai mengalir tak terkontrol; aku perlahan mencium alisnya, hidungnya, bibirnya, membiarkan air liur mengalir melalui tepi lidah kami… ia bersandar, merespon ciumanku dengan lembut, dengan seluruh kelembutan yang ia bisa. Aku tak dapat melihat wajahnya, begitu pula dengan wajahku sendiri; ini adalah titik buta dalam memoriku – menjadi tak mampu untuk menemukan bentuk pembenaran dalam bahasa apapun, otakku terbakar menjadi abu, debunya terbang. Sesuatu nampaknya telah jatuh dari ujung hatiku.

Kami tersandung di jalan saat kami mencengkam menuju kamar mandi. Memegangnya membelakangi tembok, aku membelai dan menyisir rambutnya dengan lembut. Kami diam; hanya nafas kami yang terdengar. Ia menutup matanya dan menyentuhkan dahinya ke dahiku.

Memukul cermin di dekat wastafel dengan sekuat tenaga, aku mengambil salah satu serpihannya. Kukunci tangannya di belakang punggungnya, kepalanya dimiringkan ke samping. Kami bernafas dengan berat di telinga masing-masing, aku menundukkan kepalaku dan memulai menciumnya begitu penuh gairah, ia memejamkan matanya dan meresponku dengan seluruh usahanya, tepat pada saat dimana aku menyayat pergelangan tangannya.

Semuanya didahului dengan keheningan. Ia mengangkat tangan kirinya untuk mengusap air mataku, dan jatuh ke lantai dengan lemah, darah hangatnya mengalir ke seluruh lantai. Dengan sadar, aku ingin untuk menghentikan luka dari pendarahannya dengan beberapa pakaian, tapi aku telah lupa, sayatan itu disayat olehku.

Seiring menitiknya setetes air mata, ia berkata, “Aku ingin pulang.”

Aku mengangkatnya dan membawanya ke kamar tidur, disana, secercah cahaya menembus jendela, secara tidak sengaja menghadap ke timur. Aku mengambil sebuah bangku dan mendudukkannya disitu, membetulkan rambutnya dan bajunya, ia menunjukkan sebuah senyuman, dan dengan sekian keletihan yang tak dapat dikalahkan, ia berkata, “Aku akan tidur sejenak.”

Kemudian, ia menutup matanya.
Aku terus menatap sepasang mata itu, tapi mereka tidak pernah terbuka lagi.

Duduk di depan jendela, aku membeku untuk waktu yang lama, tidak mengetahui bahwa menit-menit atau jam-jam telah berlalu.

Di Timur jauh sana, tidak ada tempat yang dapat kusebut rumah, tapi bila ia bisa kesana di masa yang akan datang, aku akan ingin, dan itu bila aku bisa.

Original Fanfiction  written by 辛辛息息
Indonesian Translation of this chapter by  citrahf

Do not reupload, do not repost, respect copyrights, and use proper credits if linking this post
Don't forget to leave some comments ^^

Rabu, 28 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 19

Terpaku pada kejadian itu, Aku dan Yixing secara bersangkutan mengembalikan tatapan Luhan terhadap kami. Dia berubah menjadi pancaran yang terang dan senyum yang cerah, seperti biasa, “Semoga beruntung.” Ia melambai dengan lembut dan  bersuara.


Ada orang yang terikat untuk menjadi orang yang telah mengalahkan semua lawan mereka, namun memilih untuk kalah kepada dirinya sendiri. Hal yang lebih membebani daripada kematian adalah untuk hidup dengan penuh derita, ia dari dulu selalu lebih pintar dan menentukan daripada aku, selalu membuat pilihan yang benar.
Aku telah lupa seberapa lama waktu berlalu, Yixing  terbaring tidur di sofa. Luhan membuka pintu untuk berjalan keluar dari kamar tidur di lantai dua, berdiri di kaki tangga.
“Bisakah aku meminjam tali plastik yang ada di lantai?” Ia berucap dengan senyuman.
Melihat ke lantai, aku tahu bahwa jam hitung mundur telah menunjukkan angka 4. Seiring aku mengosongkan minyak dari pemantik tetes demi tetes, aku membuat sebuah keputusan yang sangat bodoh dalam hidupku yang juga menjadi alasan aku telah menyalibkan diriku seumur hidup.
Aku dengan lembut menggelengkan kepalaku. Seolah-olah lega, ia melambaikan tangan dan menyembulkan senyuman, “Kemudian lupakanlah... omong-omong, aku ingin meminta suatu hal padamu.”
“Bicaralah.” Kataku, tetap menjaga pandanganku ke lantai.
“Ini adalah alamat rumahku dan nomor teleponku,” ia melipat secarik kertas di tangannya,
“Sudah hampir dua tahun aku tidak berbicara kepada orangtuaku...” ia berbicara dengan santainya, “Aku punya beberapa deposito, tidak banyak, tolong aku untuk memberikannya pada mereka........ juga,” ia meregangkan kepalanya ke arah Yixing berada, “Tolong aku mengucapkan selamat tinggal pada si bodoh itu.”


“Haruskah aku membangunkannya?” Aku menatapnya.
Ia melebarkan tangannya ke udara dan menahanku, “Jangan, lupakan.”
“Kau selalu ingin aku menyampaikan barang untukmu,” Aku menatap padanya, “Mengapa tidak kau lakukan sendiri.”
Ia merenung selama beberapa detik dan tersenyum dengan mata yang murung, “Aku adalah orang yang idiot tentang kata-kata.” Ucapnya.
Itu adalah kalimat terakhir yang ia tinggalkan untukku, dan mungkin kalimat terakhir yang ia tinggalkan kepada dunia.
Kemudian ia membungkuk dan meletakkan jam tangan pink di lantai.
Ia meninggalkan sebuah senyuman padaku, berbalik dan berjalan lagi ke kamar tidur, menghilang dari ruang pandangku.
Lebih dari setengah jam kemudian, aku terwaspada oleh getaran suara diluar pintu, Yixing masih tertidur, aku mendekati jendela dapur sendirian untuk melihat ke luar. Garis pandangku terbatas, aku tak dapat melihat seorang pun, hanya darah merah tua yang turut mengalir bersama hujan.
Berjalan menuju lantai dua, aku hanya melihat pintu yang mempunyai akses ke cerobong asap sedikit terbuka, dan sprei-sprei kasur yang telah kusut dirobek, di seluruh lantai dua tidak ada siapa pun.
Duduk sendiri di kamar tidur lantai dua, aku menyisirkan tanganku ke karpet yang mereka semua telah injak. Berdiri, aku berjalan menuju pinggir tangga dan memungut jam tangan pink, waktunya telah terhenti pada saat jam kematian Sehun.
Permainan ini telah mendekati finalnya, lihat Yixing, kita telah menang.


Original fanfiction written by 辛辛息息
Indonesian translation of this chapter by citrahf

Do not reupload, do not repost, respect copyrights, and use proper credits if linking this post.

Don't forget to leave some comments ^^
 

Selasa, 27 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 18



Aku berjalan keluar kamar tidur, melamun; ruang tamu telah hancur sangat parah. Aku tak tahu bagian mana dalam adegan aksi ini yang mulai kutonton, aku hanya tahu hidung Yixing sudah memar dan wajahnya bengkak, pakaiannya telah robek-robek dan ia sedang bergelut dengan Kim Jongin dari sofa menuju tangga dan terguling dari tangga menuju lantai. Ia mengerling padaku beberapa detik ketika aku keluar, dan sesegera mungkin mendapat tinjuan dari Kim Jongin seiring dengan ia menyeretnya ke lantai, menendanginya. Yixing terlihat seperti seekor anjing tak berdaya karena ditendang berlebihan, namun mengejutkannya ia menyeret dan menggulingkan Kim Jongin di lantai dengan tangannya mengunci leher Jongin.   

Seperti yang kukatakan, ia selalu seperti ini, ketika kau pikir ia akan menyerah, ia akan terus berusaha sampai ke inci tersebut, memberi tahumu bahwa ia masih hidup.

Aku bergegas menuju dapur, sekelebat terlihat lemari yang terbuka, aku mengambil wajan penggorengan yang dulu Chanyeol pakai, melangkah ke dua orang yang sedang bertarung melawan satu sama lain di pesta dansa. Aku tersandung sebuah tali plastik tepat sebelum aku mendengar Yixing menyerukan, “hati-hati!”, cih, tali plastik yang bodoh namun familiar ini.

Aku berbalik, tiba-tiba kepalaku seperti dibom, aku merasa alkohol dan darah terlucuti dari kepalaku, meresap ke seluruh leher dan bagian atas badanku. Ketika aku membuka mataku lagi, aku melihat Luhan berdiri dihadapanku memegang sebuah pemantik, ia menatap padaku, seperti seorang setan linglung.

Kuping kiriku sangat syok ketika Yixing berteriak, “Luhan!!”

Memoriku menutupi kebisingan lainnya, aku berpikir Luhan adalah orang yang sama karena ia benar-benar menoleh dan menatap Yixing. “Yixing?” ia bilang.

Momen berikutnya, Yixing menjatuhkan Luhan ke lantai, pemantiknya terjatuh sekurang-kurangnya 2 meter jauhnya. Kim Jongin menyeret Yixing dengan mengunci lehernya dari belakang, ia secara acak mengambil sebuah botol pecah dan meletakannya di dekat arteri karotid Yixing.

“Yixing!” Luhan secara naluriah meraung, “Jangan sentuh ia! Ia tidak bisa terluka!” ia mengatakannya sembari setengah berlutut mencoba untuk bangkit dari lantai ingin mencari pertolongan.


“Jangan datang kemari!” ucap Kim Jongin pada Luhan.
“Kau juga jangan mendekat!” ia, menatapku yang berencana untuk mendekat, mengucapkannya dengan gugup sembari menyeret Yixing yang membelakanginya.

“Chanyeol!” Kim Jongin berteriak ke arah kamar tidur, tidak ada suara yang merespon..

“Chanyeol dimana kau!” ia berteriak begitu pasrah, masih tak ada suara yang menjawabnya.

Tangisan Kim Jongin membahasi wajahnya, ia menatap kepada kami bertiga dan menanyaiku, “Dimana Chanyeol?”

Chanyeol meninggal, tapi aku tidak berani memberi tahunya. Ini adlah situasi yang berbanding 2:2, Yixing akan segera mati. Aku menundukkan kepalaku dan tetap terdiam, Luhan berbalik dan menatapku, mungkin memikirkan sesuatu.

“Kau membunuh Chanyeol?” Luhan menanyaku dengan tenang dalam bahasa China.
Aku tergagap dengan suara serak, “Aku tak tahu.... ia ada di kloset.” Luhan berbalik dan melihat ke kamar tidur sesaat. Ia mungkin telah memiliki jawaban di dalam hatinya.

Pada sisi yang lain, Yixing tersenyum sedikit, seolah-olah mengucapkan perpisahan padaku.

Kim Jongin terlihat ketakutan dengan percakapan Mandarin kami, menyadari ialah satu-satunya orang luar. “Luhan...” suaranya bergetar, “Apa yang kalian bicarakan....Dimana Chanyeol?....”

Aku menatap Luhan dengan tatapan memohon, ia tidak melihat padaku.


Ia menatap keluar jendela dengan tenang, sudut mulutnya melengkung sedikit terlihat seperti ketika ia kehilangan ide. Itu sebenarnya adalah pertanyaan yang sangat simpel bukan, pertanyaan yang ia tanyakan pada dirinya sendiri.

“Chanyeol, ia...” Luhan menengadah, tersenyum sambil mendekati Jongin dan Yixing, “mabuk karena beberapa gelas, dan jatuh tertidur.” Ia berkata sambil berjalan menuju Jongin, mengangkat tangannya untuk menyingkirkan botol pecah yang dipegang Jongin.

Jongin menatapnya, matanya menjadi lebih rapuh dan menggantung, “Benarkah?” ia berbisik.

“Ya, sungguh.” Luhan mengangguk dengan senyuman, ia menyingkirkan botol itu perlahan, dengan lembut mendorong Yixing dari lengan Jongin menuju ke arahku, “Ia akan sadar sebentar lagi.”

Luhan memeluk Jongin, mengusap punggungnya, aku menarik Yixing ke belakangku, Jongin tersedu seperti anak kecil, tangannya meremas baju Luhan erat-erat.

Saat itu adalah pagi yang disiram hujan lebat, keempat dari kami berdiri di ruang tamu yang berantakan ini, membuat keputusan yang paling rumit dalam hidup kami.

Semuanya mempunyai dirinya sendiri untuk disalahkan, karena jawaban itu sudah tertulis di darah masing-masing.
Seperti Sehun yang otomatis berjalan menuju dancing machine, itu adalah jawabannya.
Seperti Tao yang terus-terusan curang untuk teman-temannya, itu adalah jawabannya.
Seperti Chanyeol yang hanya menatapku dengan teramat syok namun tidak melawan, itu adalah jawabannya.
Seperti aku yang memilih untuk mengambil wajan penggorengan dan berjalan menuju Kim Jongin, itu adalah jawabanku.
Seperti Luhan yang melihatku namun memejamkan matanya dan tetap terdiam, itu adalah jawaban yang ia pilih untuk Kim Jongin, juga adalah jawaban yang ia pilih untuk Yixing dan aku, bahkan lebih, jawaban yang ia pilih untuk dirinya sendiri.

Lenganku terangkat dan jatuh, Jongin menoleh menatapku, terjatuh perlahan, salah satu tangannya mencengkram bahuku, yang lainnya menggenggam pakaianku erat-erat.
Aku menutup mataku dan mendorongnya dengan keras ke lantai, matanya yang tak berdaya terbuka lebar, mungkin membayangkan semua perang-perang tak terlihat yang telah ia alami selama hidupnya yang singkat. Ini akan menjadi kekalahannya satu-satunya, kekalahan terakhir..

Luhan berlutut di lantai, hingga nadi Kim Jongin berhenti. Ia memejamkan mata-mata yang enggan* dengan tangannya, “Beristirahatlah.” Ucap Luhan sembari berdiri, berjalan melewati aku dan Yixing.

“Aku kalah.” Ia bilang.



T/N:
* = mata-mata yang enggan maksudnya adalah mata Jongin setelah ia meninggal.

Original fanfiction written by 辛辛息息
Indonesian translation of this chapter by citrahf

Do not reupload, do not repost, respect copyrights, and use proper credits if linking this post.


Don't forget to leave some comments ^^